di fasad kota yang sibuk memoles bopeng dengan debu gincu
aku merawat aksara bisu di rahim lempung yang kian mengerak.
tuhan, kau sedang khusyuk menimbang laba dari ritus paling wangi?
atau sibuk memahat singgasana bagi mereka yang tak pernah kenal perih?
aku sudah khatam memamah penderitaan yang kau beri bumbu "syukur" yang lebam
menonton teatermu dari peron terakhir yang kau hapus dalam buku nurbuwat.
tak butuh cahaya, tak butuh iba yang kau ecer di balik tabir kepatutan
detak ini melambat, enggan beradu dengan keriuhan panggung yang kau sepuh pualam.
biarlah retakan langit ini mengendap di pundakku yang kian membiru
sebab kau terlalu sibuk menenun sutra buat orang-orang beruntung.
buang saja aku ke "suwungmu" yang paling dingin dan paling sungsang
asal jangan pernah kau usik lelap yang sedang kusembunyikan dari tatapanmu.
tuhan, apakah kau tahu?
jika surga pun bisa berbicara,
aku bersaksi ia tak akan mengizinkan-mu singgah, walau hanya sejengkal.
-
Banjarnegara, 7 April 2026
Puisi ini aku buat dengan penuh amarah dan emosi yang meledak. Publish juga di medium dengan akun @curioest.
Puisi pertamaku di tahun 2026 tidak begitu buruk.